Revolusi Mental, Website Seharga Berapa?

Kalau kamu sering baca berita, mungkin kamu tahu kabar yang sedang hangat beberapa hari ini. Yaitu peluncuran situs baru pemerintah bernama Revolusi Mental, website seharga berapa sebenarnya?

Website yang bikin heboh dan kualitasnya "lumayan" dan servernya down.

Masa sih website yang menelan dana "lumayan" servernya bisa overload gitu?

Website ini merupakan proyek Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan alias Kemenko PMK yang dipimpin oleh Puan Maharani. Menurut berita online yang Jaka baca, proyek ini menghabiskan dana lumayan.

Dengan dana sebesar itu, harusnya bisa bikin website dengan kualitas bagus kan.
Berikut  ulasannya.

1. Pake Hosting Murah
Jangan-jangan website ini pake penyedia layanan hosting yang murah-meriah makanya bisa down gitu. Setelah cek domainnya di Domain White Pages, kelihatan deh ternyata website ini pakai layanan IDwebhost.

IDWebhost merupakan penyedia layanan hosting yang murah dan cukup terjangkau. Tapi tentunya dengan kapasitas dan bandwidth yang terbatas. Cocok buat kamu yang cuma mau bikin company profile, atau online shop misalnya.

Coba lihat daftar harga paket hosting di IDwebhost.

2. Pake Open Source Wordpress
Ternyata website ini menggunakan cms gratisan dari Wordpress.

Bahkan ada satu screenshot yang nunjukkin kalau website tersebut menggunakan Wordpress.

Wordpress ini biasanya lebih banyak digunakan buat blog atau website standar.

3. Tampilan Standar
Tampilan website yang sederhana memang menjadi salah satu hal yang sering diperhatikan dalam pembuatan website. Tapi tampilan website Revolusi Mental ini justru terlalu sederhana, bahkan code style CSS terlihat copas dari website-lain.

4. Harga ?
Kamu pernah bayangin, nggak sih berapa harga yg wajarnya ?

Nah, proyek website yang menelan dana sebesar harusnya bisa jadi keren, terlihat eksklusif, bermanfaat bagi masyarakat, dan bisa diakses dengan mudah.

Masa website dengan dana lumayan besar nge-down. Harusnya dengan biaya besar bisa punya server sendiri yang lumayan bagus. Gampangnya, biarpun itu website dibuka sama bayak orang nggak bakalan nge-down.

Penyakit yang Harus dan Tidak Boleh Diobati dengan Antibiotik

Ketika terserang penyakit, kebanyakan orang Indonesia langsung mengonsumsi antibiotik. Pada hal tak semua penyakit harus diobati dengan antibiotik.

Obat antibiotik itu untuk penyakit akibat infeksi, bukan virus.

Contoh penyakit memangharus diobati dengan antibiotik, yaitu Penyakit-penyakit akibat infeksi kuman dan bakteri, seperti tipes, disentri karena amuba itu diobati dengan antibiotik.

Namun, kalau akibat virus, seperti batuk dan pilek tidak usah. Tumor juga bukan infeksi.

Penyakit akibat virus cukup diatasi dengan parasetamol atau dibiarkan hingga sembuh.

Tidak usah antibiotik karena nanti malah terjadi proses inisiasi kuman yang resisten terhadap obat di dalam tubuh.

Ada kuman hasil inisiasi panjang yang tidak bisa dibunuh dengan antibiotik apapun di seluruh dunia, bahkan yang level lima, yaitu golongan tertinggi di dunia.

Bahayanya, banyak orang tak menyadari keberadaan kuman ini. Saat kekebalan tubuh masih bagus, kuman ini tidak akan berulah. Saat drop, baru kuman ini bangkit.

Ada banyak faktor penyebab inisiasi kuman resisten di dalam tubuh. Namun, salah satu penyebab utamanya memang pemberian antibiotik yang tidak tepat oleh dokter.

Jika kuman resisten sudah berulah di dalam tubuh, berbagai penyakit akan menggerogoti tubuh, bahkan bisa berujung kematian.

©CNN

Pertolongan Pertama Saat Ponsel Tercebur

Terkadang, tanpa sengaja kita menjatuhkan ponsel ke dalam air. Namun karena panik, kita kerap melakukan hal yang malah memperparah kondisi ponsel.
Padahal kita bisa menyelamatkan ponsel tersebut sehingga dapat digunakan secara normal tanpa harus memasukkannya ke service center.

Ada baiknya ketika ponsel masuk ke dalam air, segeralah mengeluarkannya. Semakin lama berada di dalam air. Makin banyak cairan yang akan masuk melalui celah-celah ponsel. Setelah ini ada beberapa hal yang tidak dan harus dilakukan sehingga menghindari kerusakan permanen

Hal Dihindari

• Jangan menyalakan ponsel
• Jangan menekan tombol apapun
• Jangan mengoyang-goyangkan ataupun menekan telpon
• Jangan dibongkar karena akan berpengaruh pada garansi. Setiap perangkat dilengkapi Liquid Damage Indicator (LDI), dimana ketika aktif akan merusak garansi. Ini dipicu ketika seseorang membongkar telepon. Jika pun memang harus dibongkar, sebaiknya dilakukan oleh orang yang berpengalaman.

• Jangan ditiup. Hal ini akan dikhawatirkan air dapat masuk ke bagian dalam ponsel.
• Jangan dipanaskan, baik menggunakan hairdryer ataupun dimasukkan ke dalam microwave. Selain itu jangan pula coba-coba dimasukkan ke dalam freezer.

Langkah Penyelamatan
Setelah menghindari hal-hal di atas, barulah kita melakukan langkah-langkah penyelamatan sebagai berikut:
1. Bila masih menyala, segera matikan. Dan atur ke posisi tegak.
2. Jika menggunakan casing, segera lepaskan. Keluarkan MicroSD dan SIM Cards dari slot.
3. Buka cover belakang dan lepaskan baterai.
4. Ambil kain atau handuk kertas, lalu usap di seluruh bagian ponsel untuk mengeringkan air.
5. Jika penyebaran air lebih luas, dapat menggunakan perangkat vacuum untuk menyedot air yang berada di dalam perangkat.
6. Masukkan ponsel ke kantong ziplock yang berisi beras. Hal ini terdengar aneh, tapi beras dapat menyerap cairan.

7. Jika memiliki kantong pengering, bisa digunakan pula.
8. Jangan gunakan ponsel tersebut 1-2 hari agar lebih kering.
9. Setelah 1-2 hari, masukkan baterai dan nyalakan. Pada titik ini, cobalah semua fungsi ponsel apakah berjalan normal.
10. Jika ponsel tidak menyala sama sekali, coba untuk men-charging-nya. Lihat apakah berfungsi. Bila tidak, bisa jadi ada masalah di baterai atau kondisi ponsel ternyata lebih buruk. Untuk mengecek lebih lanjut, coba bawa ke service center.
11. Bila semua menyala normal, lakukan pengamatan beberapa hari. Lihat apakah ada perubahan dari biasanya.

© detik