SPBU Pinggir Jalan "PERTAMINI"

Penjual bensin eceran berkonsep Pertamini banyak menjamur di beberapa sudut kota, bahkan peminat bensin ini juga cukup banyak. Walaupun harga yang dijual lebih mahal daripada harga bensin di SPBU resmi.

Premium Rp 7.400/liter, dijualnya Rp 9.000/liter, walau harga bensin yang dijual lebih mahal, tapi setiap hari cukup banyak masyarakat yang membeli bensin ini dan kebanyakan pengendara sepeda motor yang tangki bensinnya hampir habis atau karena jarak SPBU terlalu jauh.

Yang unik membeli bensin di Pertamini, jumlahnya tidak ditentukan berdasarkan liter, tetapi nominal uang, misalnya Rp 5.000, Rp 10.000 dan nominal di atasnya, ukuran yg pakai yaitu tabung tranparan di atas tangki yang menurut penjual ukuran dijamin pas.

Keuntungan bisnis Pertamini bisa dibilang cukup menggiurkan,

BELI di SPBU     Rp 7.400/liter
JUAL ----->       Rp 9.000/liter 
                              -------------
UNTUNG-->       Rp 1.600/liter.

Tiap  300 liter / hari bensin Premium
MODAL 300 X 7.400= Rp. 2.220.000
JUAL     300 X 9.000= Rp. 2.700.000
Untung 300 X 1.600= Rp.     480.000
Biaya operasi :
Biaya Angkut dll           Rp     180.000
          KEUNTUNGAN.   Rp     300.000
          PER/ HARI

Artinya dalam sebulan dengan 1 kios tersebut dapat meraup untung Rp 9 juta/bulan.

Masih menurut penjual kios pertamini bisa dipesan dengan harga 6,5 - 7juta disebuah bengkel di daerah Manggarai Utara.

Satu mesin Pertamini ini ada tangki kecil isinya 210 sedang yang besar 300 liter, lengkap dengan nozzle-nya. Dari tangki di bawah dipompa masuk ke tangki ukur.

Desain Pertamini di beberapa kota berbeda-beda, tergantung kreativitas si pembuat. Bila ditelusuri, banyak website dan jualan online yang menawarkan Pertamini.

Menjamurnya Pertamini ini tidak hanya di Jakarta saja, tapi di Surabaya, Bandung dan banyak tempat lainnya di Indonesia.

Bagaimana. Anda berminat ???

Ini BPJS SYARIAH

Adapun skema program BPJS Kesehatan syariah, calon peserta ketika mengajukan pendaftaran maka diberikan dua pilihan formulir, yaitu :

. BPJS Konvensional
. BPJS Syariah.
Untuk Formulir syariah terdapat akad sesuai syariah dan penempatan dananya juga di bank syariah, sehingga unsur gharar, maisir, riba hilang.

Sementara mengenai denda jika peserta telat membayar iuran setiap bulan sebesar 2 persen, bahwa uang denda tersebut tidak digunakan untuk kepentingan BPJS Kesehatan, melainkan dikembalikan lagi ke masyarakat yang membutuhkannya melalui perobatan.

Dengan kata lain Denda itu masuk ke dana iuran, jadi ini bisa memperbesar pelayanan ke masyarakat.

Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari, satu guru satu ilmu

Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) dan Hasyim Asyari menimba ilmu fikih, tasawuf, dan beragam ilmu agama lainnya.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun sementara, Hasyim Asyari berusia 14 tahun. Dalam keseharian, Darwis memanggil Hasyim dengan sebutan Adi Hasyim. Sementara, Hasyim Asyari memanggil Dahlan dengan panggilan Mas Darwis.

Konon semasa mondok, keduanya sangat akrab dan tidur sekamar. Dua pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menjadi santri Sholeh Darat selama 2 tahun penuh.

Selepas nyantri, keduanya mendalami ilmu agamanya di Makkah, di mana Sholeh Darat pernah menimba ilmu. Tentu saja, sang guru membekali referensi ulama-ulama yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun. Muhammad Darwis yang telah mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sedangkan Hasyim Asyari mendirikan Nahdlatul Ulama.

Guru Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari adalah Kiai Haji Shaleh Darat seorang sosok ulama panutan penyebar Islam di Pantai Utara Jawa, khususnya Semarang. Dia lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, pada sekitar tahun 1820 dengan nama lengkap Muhammad Shaleh.

Sejak dini, Shaleh mendapat gemblengan ilmu dari ayahnya. Setelah dirasa cukup, Shaleh disuruh mengembara ke berbagai tempat hingga berlabuh di Mekkah.

Di sana, dia berguru dengan ulama-ulama besar di antaranya Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, Syaikh Zahid, Syaikh Umar Assyani, Syaikh Yusuf Almisri, serta Syaikh Jamal Mufti Hanafi. Shaleh juga bertemu dengan santri -santri yang berasal dari Indonesia antara lain KH Nawawi Al Bantani dan KH Muhammad Kholil Al Maduri.

Sepulang dari Makkah, Shaleh mengajar santri-santrinya di pondok pesantren milik Kiai Murtadho yang tak lain mertuanya.